Liburan semester 3 kemarin kami berencana untuk backpacking keliling Jogja. Salah satu destinasi utama kami, tentu saja PANTAI!

Bicara tentang pantai di Jogja tentulah Parangtritis yang pertama muncul di benak. Hanya saja kami mulai berpikir, apakah hanya Parangtritis? Adakah pantai lain yang tersembunyi di Jogja?

ADA! Setelah observasi di dunia maya, ternyata ada garis pantai sepanjang Selatan Wonosari. Disana ada beberapa pantai yang saling bersebelahan. Rencana kami, Pantai Sundak adalah tujuan pertama. Lalu kami akan menyusuri pantai hingga ke Pantai Baron.

Here We Go!

KAMIS

  • Pukul 20.00 Berangkat dari Bandung (Stasiun Kiaracondong), naik kereta ekonomi.
  • Bagian paling berat dari perjalanan: 8 jam di kereta.

JUMAT

  • Pukul 05.30 tiba di Stasiun Lempuyangan-Jogja, sebelah timur Malioboro.
  • Langsung menuju Terminal Giwangan, daerah selatan Jogja.
  • Dari terminal Giwangan naik bis ke arah Wonosari. Perjalanan sekitar 1 jam.
  • Tiba di terminal Wonosari sekitar pukul 09.00, kami langsung mencari transportasi menuju Pantai Sundak.

Setelah bertanya-tanya, ternyata jarang ada transportasi ke daerah pantai Sundak, karena jarang ada yang mengunjungi pantai tersebut selain hari libur. Kami semakin semangat, itu artinya pantai Sundak pasti sepi.

Ada satu elf (kendaraan minibus diesel yang biasanya bermerk Mitsubishi ELF, makanya sering disebut “elf”. Tapi ini sebutan lazim di daerah Pajajaran, di daerah jawa kami lupa tidak menanyakan sebutan khas kendaraan ini.), yang bersedia mengantar kami ke pantai Sundak, dengan syarat harga jalannya dinaikkan. Setelah nego-nego, kami memutuskan setuju. Berangkatlah kami.

Pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan, yaa pemandangan pedesaan, ladang, bukit, semak. Tidak ada yang menarik mata kami. Namun hati kami bisa merasakan kedamaian mengelilingi penduduk di daerah itu. Sejuk, tenang, dan nyaman terasa di hati.

Sambil bercakap dengan abang kernet, elf berjalan mantap di jala aspal yang sangat bagus untuk skala pedesaan(jika dibanding jalan aspal di kota, Bobrok!).

  • Pukul 11.00 tibalah kami di pelataran parkir pantai Sundak.

Begitu mendarat dari elf setengah bobrok, kami langsung berhamburan mendekati bibir pantai. Tidak lupa kami bertukar nomor HP dengan abang kernet. Janjian minta dijemput Sabtu siang esok harinya, di Pantai Baron.

Perjalanan nonstop 8 jam di kereta ekonomi, bis stasiun, bis wonosari, hingga elf bobrok itu, langsung terbayar lunas saat kami memandang hamparan Samudera Indonesia yang dibingkai oleh bukit Karang di sisi kiri dan kanan, barisan kapas awan tebal di sisi atas dan pasir putih di sisi bawah. Cantik!

Pantai Sundak

Kami langsung membanting ransel di atas pasir putih bersih tanpa sampah. Sebagian dari kami mengeluarkan kamera, sebagian buka celana, sebagian langsung menceburkan tubuh di pantai.

Meskipun kami telah membaca peringatan “PERHATIAN!!! LOKASI INI SANGAT BERBAHAYA DILARANG MANDI/BERENANG, BERMAIN DI LAUT” kami tetap tak tahan untuk membasahi tubuh remuk ini. Toh kami berenang di pantai, bukan di LAUT. . .

  • Pukul 11.30 teringat shalat Jumat. Tapi apadaya, masjid terdekat sepi jamaat. Jadi kami putuskan untuk shalat Dzuhur saja.

Kami langsung mendirikan tenda, tepat menghadap pantai, di bawah pepohonan rindang. Shalat, makan, minum, merokok, tanpa baju, tanpa alas kaki WAAAAA. . . We can’t find any reason to leave this heaven!!!

Bersambung.

Tinggalkan Balasan